Sabtu, 29 Oktober 2011

Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Nasional 1

Perpustakaan desa Sapuran Al-Bidayah menjuarai lomba perpustakaan desa tingkat nasional 1 di Jakarta. Perpustakaan yang berada di daerah kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah ini menjuarai lomba perpustakaan tingkat desa setelah melalui fase 12 besar pada penjurian sebelumnya. Grand Final dilaksanakan di Hotel Menara Peninsula Jakarta pada 25 Oktober 2011-26 Oktober 2011. Fase akhir penjurian adalah dengan presentasi dari 12 perpustakaan desa dari masing-masing provinsi di Indonesia. Perpustakaan Al-Bidayah berhasil mengalahkan pesaingnya perpustakaan Arum dari Banjar Arum Kulon Progo Yogyakarta, dan rumah kreatif desa Cipelang Bogor Jawa Barat dengan total nilai 88. Kemenangan ini bukan sekedar kebanggan bagi para pengurus tetapi merupakan hasil dari kerja keras dan inovasi dari pimpinan perpustakaan Al-bidayah Dimas Ari pamungkas beserta jajaran pengurus yang di bantu oleh masyarakat Sapuran.

Gambar disamping menunjukkan saat presentasi dari kepala pepustakaan Al-Bidayah Sapuran Wonosobo. Waktu yang diberikan oleh dewan juri untuk melakukan presentasi hanyalah 15 menit tiap peserta lomba. Dengan memperoleh nomor undi delapan memberi kesempatan pada Kepala perpustakaan  Al-Bidayah untuk mengatur strategi dan mempersiapkan apa saja perkiraan pertanyaan dari dewan juri. Berdasarkan mitolgi China angka delapan berarti juga kesempurnaan kebetulan juga kami juga mendpat angka delapan dalam presentasi dan mendapatkan juara pertama dalam lomba.



                                                                                                                                                   Dewan juri saat mencecar Dimas Ari Pamungkas dengan pertanyaan-pertanyaan. Dewan juri memberikan pertanyaan seputar aplikasi teknologi yang diterapkan oleh perpustakaan Al-Bidayah
 yang belum dimanfaatkan betul oleh perpustakaan lain. Teknologi informasi yang ditawarkan tidak ketinggalan zaman tetapi dapat diakses dengan murah. Pemanfaatan website oleh perpustakaan sangat penting terutama dalam perkembangan perpustakaan elektronik yang membutuhkan teknologi internet dalam pengembangannya. E-book akan menjadi wacana kedepan.



Persiapan sebelum presentasi yang mendapat petunjuk dari kepala Perpusda Wonosobo mengenai hal-hal yang sangat esensial dalam penyampaian presentasi yang efektif. Hal ini dilakukan karena melihat presentasi dari peserta lain yang terlebih dahulu tidak efektif dan efisien . Hal ini menjadikan bahan evaluasi bagi perpustakaan Al-Bidayah dalam penyampaian presentasi. Hasil evaluasi ini membawa perpustakaan al-Bidayah menjadi juara 1 Nasional lomba Perpustakaan tingkat desa.


Pengumuman pemenang lomba oleh dewan juri yang disampaikan Trini Haryanti. Juara 3 lomba dimenangkan rumah kreatif desa Cipelang Bogor, juara 2 dimenangkan perpustakaan Arum desa Banjar Arum Kulon Progo, juara satu dimenangkan perpustakaan Al-Bidayah desa Sapuran Wonosobo Jawa Tengah. Kemenangan ini menjadi modal untuk menggambarkan perjuangan masyarakat Sapuran dalam memperluas pengetahuan melalui budaya membaca yang tersalurkan lewat keberadaan perpustakaan desa.



Writen by: Surono Picture By: Mameck

ANDY F. NOYA, DUTA BACA INDONESIA 2011

 
--Foto Utama--
Salemba, Jakarta—Ramah, penuh canda dan penampilan santai, jauh dari kesan formal. Tapi, jauh dibalik itu semua terlihat kecerdasan dan sosok intelektual dari Andy F. Noya. Pria yang dikenal publik lewat tayangan Kick Andy (Metro TV) baru saja terpilih sebagai Duta Baca Nasional 2011 oleh Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) menggantikan peran Tantowi Yahya yang sejak 2006 menyandang Duta Baca Indonesia (DBI) sampai 2010.

Mengenakan balutan kaos merah berkerah dipadu jeans, sepatu kets dan topi, Andy turun dari mobil, kemudian menyalami setiap hadirin yang ditemuinya. Tak perlu menunggu lama, acara penandatanganan Perpusnas dengan Andy F. Noya berlangsung di Ruang Pancasila Perpustakaan Nasional, Salemba, Senin, (26/9). Sejumlah pejabat eselon, para pustakawan, IKAPI, pengurus KPAD dan media massa turut menyaksikan moment penting tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan dan Pengkajian Minat Baca Perpusnas Syarif Bando mengatakan bahwa diputuskannya Andy F. Noya sebagai Duta Baca Nasional yang baru telah melalui seleksi dan pemantapan oleh Tim Juri. Andy F. Noya, lanjut Syarif Bando berhasil menyisihkan sejumlah kandidat yang kredibel dan concern terhadap pengembangan minat baca masyarakat Indonesia, seperti Dik Doank, Happy Salma, Agnes Monica, Slamet Rahardjo, Utut Adianto, BJ Habibie, dan Jusuf Kalla.
“Kami memerlukan motivator yang dapat menggugah kesadaran masyrakat untuk gemar membaca,” ungkap Syarif Bando saat memberikan sambutan pembuka. Program kampanye minat baca dengan menampilkan figur teladan telah dikembangkan Perpusnas sejak tahun 2006 dengan sebutan Duta Baca Indonesia.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Kepala Perpustakaan Nasional Hj. Sri Sularsih mengatakan Perpusnas menyadari bahwa upaya diatas tidak dapat dilaksanakan tanpa dukungan dan strategi promosi yang efektif. Kaperpusnas mengharapkan dengan adanya Duta Baca yang baru, pengembangan minat baca di masyarakat bisa lebih cepat. Tidak hanya sebatas motor penggerak minat baca tapi juga untuk mengakselerasi kegiatan minat baca kepada seluruh masyarakat Indonesia. Peningkatan minat dan gemar membaca perlu dilakukan melalui kampanye Gerakan Nasional Peningkatan Minat dan Gemar Membaca “Masyarakat perlu motivasi agar mau membaca,” ucap Kaperpusnas sebelum penandatanganan.

Terpilihnya Andy F. Noya merupakan sebuah terobosan yang cukup brilian yang diperbuat Perpusnas. Di era komunikasi saat ini, menggandeng tokoh atau public figur yang cukup dikenal masyarakat luas menjadi “solusi” untuk mengerek popularitas demi menguatkan image (pencitraan) yang telah diciptakan sebelumnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap most people (orang terkenal) yang digemari sebagai panutan dalam berbagai keseharian kehidupannya. Misalnya, dengan dipilihnya Andy F. Noya sebagai Duta Baca, masyarakat yang telah mengenal sebelumnya lewat program Kick Andy bisa langsung mengaitkan dengan Perpustakaan setiap kali tayangan tersebut muncul. Simbiosis ini merupakan solusi efektif dalam meningkatkan popularitas Perpustakaan dan minat baca masyarakat.

Memiliki nama lengkap Andy Flores Noya, pria kelahiran Surabaya 6 November 1960 ini memulai karir sebagai reporter pada 1985 di Majalah Tempo, selain tercatat sebagai mahasiswa kala itu. Lahir dari keluarga yang sederhana, Andy sejak kecil sudah harus berjuang membantu kehidupan keluarga. Pascalulus Sekolah Dasar di Malang, Andy hijrah ke Jayapura melanjutkan sekolahnya. Di sana ia tidak tamat, lalu pindah ke Jakarta dan melanjutkan di STM 6, Jakarta.

Pria berdarah Ambon, Jawa dan Belanda ini mengaku jatuh cinta pada dunia tulis menulis sejak muda. Hal ini ia lakukan demi menambal kebutuhan kuliahnya, walau pada akhirnya tidak menamatkan kuliahnya Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang IISIP), Jakarta.

Semasa kuliah, Andy mengaku harus menabung sampai tiga bulan untuk bisa membeli sebuah buku. Tidak jarang ada kawan berbaik hati menggandakan bukunya untuk saya.. “Kalau tidak ada, saya terpaksa harus ke Perpustakaan Soemantri Brojonegoro di Kawasan Kuningan, Jakarta,” kenangnya.
Hampir tiap hari ia menyalin isi buku sampai tangan pegal. Andy pun selalu mengelak ketika petugas perpustakaan menawarkan fotokopi. Ia beralasan tidak ada uang. ”Saya ingat ada dua buku paling mahal yang pernah saya punya waktu itu, Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) dan 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Di Dunia.” Sampai berhenti kuliah, tidak lebih dari 20 buku yang ia punya. “Dendam” pun tersemat dalam hatinya, suatu ketika jika mampu, ia akan membeli buku sebanyak-banyaknya.

Setelah menikah pun, Andy tidak bisa menghentikan kebiasaan membeli buku dalam jumlah banyak. Padahal saat itu, gaji yang dia miliki tidak lebih besar dari penghasilan istri. Tidak heran jika terjadi kesalahpahaman diantara mereka. “Bahkan saya rela menceraikan istri jika kebiasaan memiliki buku dilarang,” ujar Andy sedikit berkelakar yang disambut tawa para tamu. Akhirnya sang istri sudah bisa memahami walau dia tahu buku-buku itu tak akan habis terbaca dalam sebulan.

Jika sekarang via Kick Andy, ia bisa membagi-bagikan buku, maka itu kebahagiaan. Apalagi jika buku-buku itu jatuh ke tangan mereka yang membutuhkan Mereka yang merasa sesak di tengah “oksigen” yang melimpah. Mereka yang melihat begitu banyak buku di sekitarnya tetapi tak sanggup memiliki.
Membaca itu penting, tapi sebagian masyarakat Indonesia masih berpendapat bahwa buku bukan sebuah kebutuhan utama dan membaca belum sebagai kebiasaan. Melalui buku, beragam informasi bisa digali. Buku membuka sebuah dunia baru. Menjadi langkah pertama yang akan mengantarkan kesuksesan. Buku, langkah awal untuk mencapai sebuah mimpi besar terwujud.****

Sumber : Hartoyo D