Kamis, 19 Mei 2016

OWOR-OWOR TBM AL-BIDAYAH MEMASYARAKATKAN MINAT BACA

Media sederhana tidak selamanya sederhana, namun bisa menjadi kegiatan yang hasilnya luar biasa. TBM Al-Bidayah dalam melakukan kegiatan mibat baca kepada publik tentunya banyak ragam yang dilakukan. salah satunya adalah media owor-owor atau yang TBM Al-Bidayah sebut dengan radio baca keliling yang mempunyai tujuan agar kegiatan Al-Bidayah dapat makin dekat dengan masyarakat sehingga keberadaan TBM Al-Bidayah semakin memberi dampak nyata.

Kegiatan yang dilaksanakan tentulah kegiatan yang sederhana, namun dampak dari kegiatan tersebut sangat luar biasa

itulah sekilas salah satu unggulan TBM Al-Bidayah
Salam literasi

Rabu, 13 April 2016

Ruang Sanofi




Alhamdulillah ruang Sanofi TBM AlBidayah yang dibuka serempak barengan dengan acara semarak ramadhan penuh kemerdekaan IV......guna imajinasi kembangkan kreatifitas, berbagi bersama.....merupakan satu dari ragam layanan inovasi yang terus TBM kembangkan.
trimakasih para sponsor kegiatan, perpuseru, tenda biru, asia foundation, tifa com, convection, BMT melati, pegadaian, KUD Sapuran, dan masih banyak lainnya sehingga lobi2 tidak hanya pelatihan tp nyata di terapkan sehingga sukses kegiatan
Memori indah dan selalu menjadi langkah awal untuk semakin maju dan maju






semakin lengkap layanan TBM Al-Bidayah makin nyaman kelompok sastra Al-Bidayah berekspresi. tentunya semua pemanfaat TBM Al-Bidayah
TBM Al-Bidayah Juara Umum Tirto Utomo Award 2016








Alhamdulillah, sabtu 2 April 2016 dapat meloloskan 3 finalis dan dapat memberikan hal positif di kegiatan tirto utomo award VII ...
Menjadikan mereka lebih memahami bagaimana berkreasi dan memotivasi sejak dini
TBM sebagai sarana pengembangan kreatifitas yang menjadikan para pemanfaat berprestasi adalah bukti kepedulian Al-Bidayah didalam memotivasi masyarakat gemar membaca, sekaligus produktif dalam menyampaikan ide.
1. Juara 1 cerita tk. Umum
2. Juara 2 cerita kategori Smp/ Sma
3. Juara 2 cerita kategori SD
Selamat buat Bagus Riski Wicaksono, dan reza Nur khalim....


Menjadikan TBM bukan hanya biasa tetapi menjadi hal yang luar biasa dan dapat dimanfaatkan oleh pemanfaat TBM.

Dan akhirnya mendapat Juara umum di ajang tirto utomo award 2016.
Salam semangat


"TBM Al-Bidayah Makin Mandiri dan Makin memberi nyata"

Ngobrol Bareng Presiden TBM Indonesia, Gola Gong



WONOSOBO - Info via SMS yang dikirim oleh teman pengelola TBM Al-Manan, Kebrengan, Mojotengah, Wonosobo Mbak Siti Kholisoh tanggal 7 Desember 2012 lalu benar-benar menjadi awal perjumpaanku dengan Mas Gol A Gong. Maaf, kusebut Mas, karena usiaku beda jauh dengan pendiri dan pemilik Rumah Dunia, Serang, Banten, Jawa Barat itu. SMS tersebut mengabarkan bahwa akan ada Pertemuan Pengelola TBM dengan Gol A Gong dan Sembako Buku di Wonosobo, tanggal 17-18 Desember 2012. Agenda pertama pun jatuh di TBM Al-Bidayah, Sapuran, Wonosobo tanggal 18 Desember 2012 jam 13.00 – 15.30 WIB. Alhamdulillah, aku diundang oleh Mas Fuad dan Mas Dimas pengelola TBM yang berhasil menyabet Juara 1 Lpmba Perpustakaan Desa Tingkat Nasional tersebut.
Alhasil, agenda di TBM Al-Bidayah menjadi bincang-bincang hangat seputar dunia membaca, menulis, TBM, dan perlunya reorganisasi pengelola TBM di masing-masing kabupaten. Kehadiran Gol A Gong membawa amanat dari Kemendikbud untuk membentuk kepengurusan TBM di kabupaten Wonosobo. Mengingat muswil tingkat Jateng akan diselenggaran tanggal 30 Desember 2012 di Semarang. Di samping itu juga mengabarkan adanya Gerakan Nasional Indonesia Membaca. Gerakan yang didasari oleh UU Perpustakaan dan UU Sikdinas ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi/iklim di Indonesia yang semakin terpuruk oleh carut-marut kehidupan yang menyimpan banyak problema. Hanya dengan pendidikan, kemajuan segala bidang dapat maju dan berkembang. Membaca pun menjadi gerbang masuknya ilmu pengetahuan dan informasi yang akan memperkaya khasanah batin kita. Menulis juga menjadi paradigma baru dalam menstransformasikan ide, gagasan, imajinasi, ilmu, dan sebagai media mendokumentasikan hasil olah pikir, olah rasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Paket sembako buku berjumlah 20 eksemplar pun akhirnya ditangan setelah mengganti uang transport penyelenggaraan pertemuan sebesar Rp. 130.000,-. Diskusi bareng Gol A Gong ini juga berlangsung di beberapa kota lain di wilayah Jateng, seperti di Tegal, Pemalang, Semarang, Pekalongan, Purwokerto, dan lain-lain. Agenda lain mas Gol A Gong di Wonosobo antara lain Workshop tentang Dunia Penulisan di Warung Kopi “ Coffepaste” jam 19.00 WIB di Jalan Kauman Utara. Hem, acara ini pun tak kalah seru karena menjadi ajang berkumpul beberapa elemen (penulis, wartawan, budayawan, seniman, pecinta sastra, dll) di Wonosobo. 
Intinya, kegiatan menulis itu adalah pekerjaan intelektual dan spiritual. Perlu terus diasah dan dikembangkan agar tumbuh generasi yang tidak asyik berkata-kata seperti sekarang ini. “ Sastra juga masih jauh dari masyarakat, nha tugas kita agar dapat mendekatkan sastra ke masyarakat awam” kata  Gong mantap. TBM dan aktifitas positifnya, seperti gerakan membaca nasional menjadi spirit membaca di tingkat lokal. Harapan lebih lanjut tentu ingin terjadi gempa literasi di berbagai pelosok negeri tercinta ini. Bahkan diharapkan gerakan membaca jadi kalender/plan di tahun-tahun mendatang dengan tidak melewatkan pembagian paket sembako buku atau wakaf buku kepada TBM-TBM yang ada. Karena hawa dingin semakin menusuk tulang dan malam semakin larut, bincang kedua dengan Mas Gol A Gong terpaksa harus segera cabut. Kupikir tak masalah, toh aku dah bisa foto bareng dengan penulis hebat yang pegang bukuku dengan penuh semangat. Makasih Mas Gol A Gong!(Eko Hastuti)

HIDUP ADALAH PILIHAN






siti fatonah
siti fatonah
Siapa bilang jika seorang siswa SMA tidak bisa berkontribusi aktif secara keilmuan pada masyarakat di desanya? Hal itulah yang ingin dikatakan oleh seorang Siti Fathonah kepada seluruh teman sebayanya se Indonesia. Semenjak SD, Siti telah ikut merintis Perpustakaan desa yakni TBM(Taman Bacaan Masyarakat) Al Bidayah Sapuran. Tepatnya pada 2007 lalu dan bersama-sama sang kakak Siti Nuryani menjadi penjaga perpus saat kewajibannya di sekolah usai.
“Dulu waktu TBM belum sebesar ini, kami harus berjuang untuk mendapatkan buku bagus dan mengajak teman-teman untuk gemar baca. Kini TBM selalu ramai dengan siswa SMP dan SMA saat jam pulang sekolah,” tutur remaja berparas ayu kelahiran Wonosobo, 3 September 1998 itu.
Siti yang gemar menulis itu, ingin sekali mengikuti berbagai komunitas sastra dan berharap bisa menerbitkan karyanya yang berupa cerpen suatu saat nanti. Di sekolah, Siti aktif mengikuti pramuka dan menjadi pengurus Osis.
“Saya ingin sekali berprofesi menjadi seorang penulis dan pustakawan, untuk itu saya berharap bisa melanjutkan kuliah di Universitas terbaik yang bisa mengantar saya ke sana,” tutur penyuka masakan rumahan itu.
Siti tak hanya sigap dalam pelayanan taman bacaan di Puntuksari Sapuran, namun juga piawai dalam membuat kaligrafi. Bahkan saat duduk di bangku SMP, Siti menyabet juara ke 3 lomba kaligrafi di mapsi Kabupaten.
Anak ke dua dari dua bersaudar itu juga dikenal teliti dalam menghitung dan kerap diserahi tugas administrasi di TBM nya. Hrapannya TBm yang diperjuangkannya selama lebih dari 8 tahun itu bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan bisa memenuhi bacaan berkualitas sehingga bisa meningkatkan ilmu dan kesejahteraan di kelurahan Sapuran.
“Hidup adalah pilihan” adalah moto hidupnya dimana kita kadang hanya harus memilih antara beberapa hal yang ada di depan mata dan beharap selalu bisa melangkah ke pilihan yang baik. (win)

TBM Al Bidayah Sapuran Wonosobo Jawa Tengah


 

Dimuat: 05 Mar 2014
Oleh: Dicki
[Foto] Tampilan masuk ke Ruang Taman Baca Al Bidayah.

Sesampai alun-alun Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo, berputar mencari kantor kelurahan pada sisi barat alun-alun. Kami menaiki jalan setapak menanjak berguyur rintik hujan di malam hari.

Kami melihat sebuah bangunan bertembok warna merah muda yang menjual berbagai macam makanan ringan dan kebutuhan rumah tangga serta pernak pernik lain. "Lhoh kok ada tulisan ' Tbm Al-bidayah Puntuksari Sapuran ' ? Ini warung apa TBM ? " kami berbicara dalam hati sambil ditunjukkan untuk masuk melalui pintu utama yang terletak di samping.

Kami masuk ke dalam warung, eh TBM maksud kami. Bukan membahas warung tersebut. Cukup langka, TBM yang pernah menjadi juara 1 TBM Kelurahan se Indonesia tahun 2011 ini memiliki warung sebagai usaha mandiri yang dikelola oleh pengurus sendiri. "Laba dari penjualan, sudah mencukupi pembelanjaan buku dan operasional TBM setiap bulan." tutur Dimas, pemilik TBM.

Pintu terbuka dan kami langsung masuk ke dalam TBM yang telah berpindah lokasi ketiga kalinya ini. Kami disambut oleh sebuah tokoh kartun asal Jepang yang terpajang pada samping rang buku. Super hero Saint Seiya berkostum warna putih ini memisahkan antara ornamen bebatuan berhias wayang dengan deretan rak lain. Tampak pada gambar, beberapa orang sedang asyik melihat admin pengelola TBM memainkan keyboardnya.

Area membaca lesehan (duduk di lantai) dan area membaca dengan kursi di atur dengan rapi. Desain interior tampak cantik dengan balutan warna hijau muda diberi wall sticker yang semakin memperindah tampilan. Warna hijau memang membuat mata menjadi lebih segar sehingga pembaca lebih nyaman untuk membaca. 

Perpustakaan Kreatif, Ramah Anak dan Kerap Juara


SELASA, 28 JANUARI 2014 | 07:45 WIB
Perpustakaan Kreatif, Ramah Anak dan Kerap Juara
Perpustakaan Al-Bidayah Desa Sapuran Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Perpustakaan ini pernah meraih juara nasional dan penghargaan perpustakaan paling kreatif dan rekreatif.
TEMPO.COWonosobo - Siska Elesye menghampiri bagian pendaftaran Perpustakaan Al-Bidayah. Ia berjalan menuju rak buku setelah lima menit. Siska yang berumur delapan tahun datang bersama kakaknya, Rocky Cesar Alfarizi, 14 tahun. Siska memilih buku berjudul Cooking Battle. Mereka berdiri membaca di depan rak buku. Lalu, keduanya meminjam buku itu untuk dibawa pulang. “Saya suka pinjam buku tentang masak memasak,” kata Siska.

Siska dan Rocky adalah dua bocah dari setidaknya 15 bocah yang menikmati perpustakaan, Ahad siang, 26 Januari 2014. Mereka ada yang mengedit cerita pendek, bermain catur, dan permainan komputer edukasi. Perpustakaan itu memiliki berderet deret rak buku setinggi dua meter. Piala dan piagam menghias sepanjang bagian atas rak buku. Perpustakaan ini juga menyediakan kios milik koperasi taman baca masyarakat.

Gairah membaca di Desa Sapuran Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah meningkat seiring hadirnya perpustakaan itu. Lahirnya perpustakaan ini tidak lepas dari seorang bernama Dimas Ari Pamungkas. Ia adalah Kepala Perpustakaan Al-Bidayah. Sehari-hari dia adalah guru Sekolah Dasar di Wonosobo. Perpustakaan ini bersembunyi di antara perkampungan padat penduduk. Ada gang kecil dan jalan menanjak menuju perpustakaan.

Bangunan bercat ungu itu menempati lahan seluas 50 meter persegi. Ruangan untuk perpustakaan seluas 12 X 4 meter. Perpustakaan itu mulai menempati lahan itu sejak Oktober 2013. Sebelumnya, perpustakaan ini menumpang di balai desa. Balai desa yang semula kosong kemudian difungsikan lagi. Belakangan, pemerintah desa meminta kembali tempat ini untuk kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan. Ini membuat perpustakaan pindah ke tempat yang sekarang ini.
 
Ruang baca perpustakaan tidak Dimas batasi di dalam gedung perpustakaan. Emper rumah milik dia yang ada di seberang perpustakaan juga menjadi ruang baca. Anak-anak yang datang biasa membaca di sana dengan berbaring, selonjor, bersandar di tembok, dan tengkurap dengan mendongakkan kepala.

Menurut Dimas, tidak semua warga Desa Sapuran menerima kehadiran perpustakaan itu. Ada yang mengkritik ketika ia membangun perpustakaan di atas tanah milik keluarga dengan ongkos setidaknya Rp 50 juta. “Buat apa buang uang sebegitu besar kalau untuk perpustakaan,” kata Dimas menirukan mereka yang berkata kurang enak padanya.

Dimas menyatakan banyak yang berpendapat perpustakaan tak lebih sebagai gudang buku. Padahal, perpustakaan adalah tempat mencari ilmu. Dimas yakin perpustakaan desa yang sederhana ini dibutuhkan oleh masyarakat untuk menunjang pendidikan anak-anak Desa Sapuran.

Dimas mulai menggagas perpustakaan sejak 2007. Awalnya, perpustakaan itu hanya sebuah ruang baca berukuran 3 X 6 meter di dalam Musala Baiturrahman, Desa Sapuran. Ruangan itu disebut pojok buku Taman Pendidikan Quran. Dimas mengajak Muhtarom, guru mengaji di desa itu untuk menjalankan perpustakaan. Dimas menamai perpustakaan itu dengan Al-Bidayah, yang berarti yang utama, atau pertama. “Kami memang tinggal di desa. Kami tak ingin seperti katak dalam tempurung, dan ketinggalan informasi,” kata Dimas.

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku sebanyak 4.000 eksemplar buku. Ada buku tuntunan lengkap perawatan jenazah, buku tuntunan berdoa, dan cara beternak ayam. Ada juga novel berbobot Olenka karya Budi Dharma, Che Guevara Revolusi Rakyat, buku filsafat, dan buku berjudul Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang. Ada juga novel karya Umar Kayam dan Andrea Hirata. Buku monumental karya Presiden Sukarno Dibawah Bendera Revolusi juga tersedia. Koleksi buku itu sebagian besar Dimas beli dari swadaya masyarakat, hibah dari penduduk sekitar, bantuan perpustakaan daerah Wonosobo, dan perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Dimas menerapkan prosedur tak rumit kepada peminjam buku di perpustakaan itu. Mereka cukup menulis nama dan tanda tangan. Waktu peminjaman buku maksimal tiga hari. “Untuk memperpanjang peminjaman buku cukup kirim pesan singkat lewat telepon seluler,” kata Dimas.

Perpustakaan Al-Bidayah tidak hanya menyediakan buku bacaan. Anak-anak bisa menonton film dan bermain game. Al-Bidayah merupakan satu dari 80 perpustakaan desa di Wonosobo hasil dorongan dari Bupati Wonosobo Kholiq Arif. Pada 2011, Al-Bidayah meraih juara pertama nasional perpustakaan desa. Lomba diadakan Perpustakaan Nasional. Sebagai juara, Al-Bidayah dapat hadiah uang pembinaan sebesar Rp 17 juta.

Di tingkat provinsi dan kabupaten, Al-Bidayah juga kerap juara. Al-Bidayah pada Oktober tahun 2013 memperoleh penghargaan sebagai perpustakaan kreatif dan rekreatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penghargaan diberikan pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional di Boyolali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh.

Dimas tak hanya mengajak orang untuk suka membaca. Ia juga memberdayakan masyarakat supaya mendapat penghasilan. Pepustakaan ini sekaligus membuka usaha foto kopi dan menjual perlengkapan sekolah serta kantor. Usaha ini dikelola oleh koperasi. Seorang karyawannya adalah Agus. Ia di bagian penataan buku perpustakaan. Selain menata buku di perpustakaan, ia juga menjual es buah pada sebuah gerobak sederhana. Perpustakaan Al-Bidayah buka jam 08.00 hingga 22.00. Tidak ada hari libur di perpustakaan ini. Ada lima pekerja yang membantu menghidupkan perpustakaan. Mereka mendapatkan honor Rp 250 ribu per bulan.

Dimas cukup kreatif membikin kegiatan yang berkaitan dengan perpustakaan. Pada liburan sekolah akhir tahun lalu, ia mengajak setidaknya 20 anak dan orang dewasa yang menjadi anggota perpustakaan menyaksikan pameran buku di pusat perbelanjaan di Kota Magelang. Dimas menamakan kegiatan ini sebagai wisata buku. Anak-anak disuruh membeli buku sesuai dengan minatnya. “Saya ajak anak-anak Desa Sapuran ke mal biar tidak kuper,” kata dia. Perpustakaan Al-Bidayah juga membuat penerbitan majalah sederhana, kumpulan cerita pendek, puisi, dan lukisan anak.

Kepala Kantor Perpustakaan Kabupaten Wonosobo Suharna, mengatakan Perpustakaan Al-Bidayah menjadi percontohan perpustakaan desa di tingkat nasional. Perpustakaan ini pernah menjadi juara nasional. Ada banyak daerah yang berusaha meniru keberhasilan Perpustakaan Al-Bidayah.

Ia menyatakan perpustakaan kabupaten menyumbang komputer dan sejumlah buku untuk menambah koleksi. Suharna juga banyak melibatkan Dimas, pengelola Perpustakaan Al-Bidayah dalam sejumlah kegiatan sebagai pembicara dan berbagi pengalaman mengelola perpustakaan. “Kami ingin menumbuhkan banyak perpustakaan desa,” kata Suharna.

Guru Besar Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, Sulistyo Basuki memuji pengelolaan Perpustakaan Al-Bidayah. Ia pernah berkunjung ke perpustakaan itu pada Desember 2012. Sulistyo datang ke sana setelah mendapat informasi ada perpustakaan bagus di Temanggung. Ia mendapat informasi itu ketika berada di Malaysia. Ternyata, perpustakaan bagus itu tidak di Temanggung, melainkan di Wonosobo. Tentu ia merujuk pada Perpustakaan Al-Bidayah.

Menurut dia, pengelolaan Perpustakaan Al-Bidayah bagus. Perpustakaan ini menyediakan buku lazimnya perpustakaan umum. Tapi, Al-Bidayah punya kelebihan. Perpustakaan ini menyediakan permainan komputer yang kebanyakan bermuatan pendidikan.

Anak-anak yang datang ke sana juga leluasa bermain catur. Perpustakaan juga tidak mensyaratkan suasana hening. Anak-anak biasa saling bercanda. “Perpustakaan Al-Bidayah sangat ramah anak. Itu kelebihannya,” kata Sulistyo ketika dihubungi, Senin, 27 Januari 2014.

Ia mengatakan Al-Bidayah menjadi perpustakaan alternatif. Inisiatif muncul dari orang di desa. Menurut dia, perpustakaan Al-Bidayah merupakan kritik terhadap kegagalan perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah kabupaten pada umumnya. Padahal, perpustakaan daerah juga punya perpustakaan keliling yang mestinya menjangkau hingga ke pelosok desa.

Sulistyo mengapresiasi perpustakaan itu karena pengelolaannya peka terhadap masyarakat sekitarnya. Pengelolanya aktif menggerakkan masyarakat dan anak-anak untuk terlibat dalam mengelola perpustakaan. Ini membuat masyarakat merasa memiliki perpustakaan.

SHINTA MAHARANI

Membaca yang Mensejahterakan


Mon, 08/24/2015 - 13:47 -- indah
Undefined
Jumat pagi, sekira pukul 9 pagi, awal Mei 2015 lalu, hawa sejuk terasa masih melingkupi kawasan Sapuran, Wonosobo, Jawa Tengah. Di tengah udara yang segar pagi itu, ada enam orang anak tengah asyik di depan komputer berselancar menikmati media sosial. Sementara beberapa anak seumuran siswa sekolah menengah pertama lainnya, menunggu giliran sambil membaca buku.
Itulah sekilas suasana di Taman Bacaan Masyarakat Al-Bidayah yang berada tak jauh dari alun-alun Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Menurut Dimas Ari Pamungkas, ketua TBM Al Bidayah, pengunjung ke TBM memang selalu ramai. “Lebih ramai seperti hari libur ini, mereka senang ke sini karena ada fasilitas bagi mereka untuk membaca dan memakai internet. Sementara kalau hari sekolah, biasanya anak-anak mulai dari SD hingga SMA datang untuk tugas sekolah,” terang Dimas.
Lokasi TBM Al-Bidayah sejatinya tidak terlalu mencolok. Harus masuk gang dan melewati beberapa rumah penduduk. Namun ketika sampai, pengunjung dapat melihat gapura sederhana yang menandakan lokasi TBM. Bangunan yang pertama kali kentara pun sebuah warung. Nah, apa hubungannya dengan TBM?
Usut punya usut, warung tersebut ternyata menjadi salah satu unit usaha yang dikembangkan di TBM Al Bidayah. Warung tak seperti minimarket memang, namun tampak menjual berbagai macam makanan ringan dan kebutuhan rumah tangga. Ada juga pernak pernik dan kerajinan tangan lainnya. “Warung ini memang unit usaha yang Alhamdulillah makin berkembang,” ujar Dimas.
Unit usaha berupa warung, lanjut Dimas, memang menjadi salah satu penopang jalannya TBM yang dikembangkannya. “Saya sadar bahwa untuk bisa berjalan, TBM harus memiliki dukungan dana. Nah, dari sinilah kami bisa melakukan subsidi silang untuk menjalankan TBM dan program lain yang ada di dalamnya,” katanya. Ia menambahkan, selain menjual kebutuhan rumah tangga dan makanan ringan, warung juga menjadi sarana memajang hasil kerajinan masyarakat binaan TBM yang mengikuti unit usaha.
Yang menarik, sebagaimana dituturkan Dimas, warung tersebut dikembangkan secara mandiri dengan modal hanya Rp50 ribu. Sekarang laba dari penjualan, sudah mencukupi pembelanjaan buku dan operasional TBM setiap bulan,” kata Dimas.
Mengubah Kebiasaan Masyarakat
Melihat perkembangan TBM Al-Bidayah yang terus menunjukkan peran pentingnya bagi masyarakat di Puntuksari, Sapuran, tentu tak terbayang bagaimana awalnya TBM ini didirikan. Menurut penuturan Dimas, latar belakang  mendirikan TBM sendiri karena ia melihat banyak masyarakat di Sapuran yang kurang memanfaatkan waktu.
Dimas bersama beberapa temannya pun berinisiatif membangun pojok baca. Kenapa tempat baca, menurut Dimas, karena kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca. Kebiasaan membaca akan dapat lebih meningkat apabila didukung oleh kemampuan atau keterampilan berbahasa  atau  membaca  yang  tinggi  di  samping  tersedianya  dan terjangkaunya buku-buku.
“Sebaliknya juga bahwa setinggi apa pun kemampuan dan ketrampilan membaca seseorang tidak akan berfungsi atau  banyak  manfaatnya  apabila  tidak  didukung  oleh ketersediaan  buku-buku bacaan secara memadai,” terang Dimas .
Ia juga menjelaskan, untuk dapat memperoleh informasi dan belajar dengan baik, kemampuan membaca perlu ditingkatkan sehingga tidak hanya dapat membaca aksara, kata, dan kalimat saja, tetapi terampil memahami makn ayang tersurat dan tersirat secara cepat dan tepat. Dengan semakin tingginya angka partisipasi dan retensi anak usia sekolah serta semakin tingginya tingkat pendidikan sebagian masyarakat akan memberikan peluang untuk memiliki keterampilan membaca yang baik.
“Semakin terampil masyarakat membaca, maka masyarakat akan semakin merasakan manfaat dan kenikmatan dari hasil membaca sehingga menjadi gandrung dan candu membaca. Perilaku yang seperti inilah yang menjadi salah satu ciri masyarakat gemar dan berbudaya membaca, yang menjadi angan-angan ketika saya mendirikan TBM ini,” ujar Dimas.
Tekad Dimas untuk mengembangan TBM juga dipacu keyakinan bahwa membaca adalah hal yang sangat fundamental dalam proses belajar dan  pertumbuhan  intelektual. Kualitas  hidup seseorang dapat dilihat dari bagaimana seseorang dapat memaksimalkan potensinya. Salah satu  upaya untuk memaksimalkan potensi diri adalah dengan membaca.
“Apalagi kondisi awal yang terjadi pada masyarakat di sekitar  adalah masyarakat sibuk memanfaatkan waktu luang di sela-sela  kegiatan kesehariannya. Saya anggap  kegiatan  masyarakat di waktu luang itu adalah dengan hal-hal yang kurang berguna,” kata Dimas.  Ia mencontohkan, banyak tetangganya yang lebih memilihnya kegiatan melamun, merokok maupun mengobrol hal yang tidak perlu daripada  membaca  di waktu senggang. “Dengan kata lain, keberadaan buku yang belum menjadi kebutuhan keseharian. Anak-anak yang meluangkan waktunya dengan kegiatan bermain secara tidak terarah sehingga masih menganggap membaca adalah beban, serta para pemuda yang sedang atau telah menyelesaikan belajar dibangku sekolah tidak lagi mengasah kemampuan membacanya.”
Dari kondisi demikian, lanjut Dimas, ia merasa tergerak untuk melakukan kegiatan yang dapat memberikan manfaat dan kepuasan masyarakat dalam menjalani waktu-waktu senggang dengan hal-hal yang baik. Dimas ketika itu bertekad agar ada suatu kegiatan yang efektif efisien tepat guna agar kebiasaan masyarakat Sapuran terutama di kampung Puntuksari yang lama sedikit demi sedikit berubah menjadi kebiasaan yang baik.
“Semua itu saya rasa bisa dilakukan melalui penyelenggaaraan TBM yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan TBM sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat,” terangnya. Merujuk definisi Kemdikbud, Dimas menyatakan, TBM yang diselenggarakannya bertujuan  untuk memberi  kemudahan  akses  kepada  warga  masyarakat  untuk memperoleh bahan bacaan. Di samping itu, TBM berperan dalam meningkatkan minat baca, menumbuhkan budaya baca dan cinta buku bagi warga belajar dan masyarakat. Secara khusus TBM dimaksudkan untuk mendukung gerakan pemberantasan buta aksara yang antara lain karenakurangnya sarana yang memungkinkan para aksarawan baru dapat memelihara dan meningkatkan kemampuan baca tulisnya.

Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat
Mendirikan TBM Al-Bidayah sebagai salah satu jawaban yang menawarkan perubahan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Sapuran, Dimas mengembangkan TBM yang telah dimulai sejak tahun 2007 dengan penuh kesabaran. Tentu saja tampilnya TBM Al-Bidayah pertama kali hingga berhasil adalah tidak semudah membalik telapak tangan melainkan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang ada.
“Namun semua tantangan yang dialami tidaklah membuat surut cita-cita saya dalam mengembangkan budaya minat baca. Setelah melakukan banyak kegiatan minat baca akhirnya, nuwun sewu, saya menemukan ide cemerlang guna meningkatkan budaya baca yaitu dengan mengenali potensi maupun keinginan masyarakat setempat yang  berawal dari apa kebutuhan yang diperlukan masyarakat Sapuran yang dapat berdaya  guna dari kegiatan membaca,” jelas Dimas.
Berangkat dari pemikiran itulah, Dimas mencoba meningkatkan budaya minat baca melalui layanan yang beragam dari pengadaan buku yang disesuaikan kebutuhan masyarakat setempat sampai ke pembentukan kelompok minat baca yang berguna untuk mengaplikasikan serta merangsang pembaca untuk berkreasi.
“Kreasi yang telah diciptakan dikembangkan dalam kegiatan perekonomian dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan maupun usaha-usaha baru dengan arahan pengembangan usaha yang cocok dengan potensi lokal,” terangnya.
Selain itu, lanjut Dimas, mengangkat potensi  lokal  yang berguna  untuk  menipiskan  jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang terlaksana dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Secara utuh, ide dan gagasan Dimas yang dikembangkan melalui TBM Al-Bidayah adalah pelaksanaan program INEKSOS yang memiliki kepanjangan dari Informasi Layanan, Ekonomi, dan Sosial yang menitik beratkan pada pemanfaatan dari kemampuan serta kebutuhan masyarakat setempat.
Pemilihan strategi program INEKSOS berbasis potensi local, menurut Dimas, adalah untuk meningkatkan minat  baca  masyarakat  Sapuran  dengan alasan bahwa TBM bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca sehingga tercipta masyarakat yang cerdas; menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat; dan mendukung peningkatan kemampuan aksarawan barudalam rangka pemberantasan buta aksara sehingga mereka telah “melek huruf” tidak menjadi buta aksara kembali.
Alasan lain, katanya, antara lain untuk memfasilitasi anak-anak sekolah agar belajar serta trampilmembaca dan menulis; terciptanya peluang usaha dari kelompok minat baca yang ada pada TBM Al-Bidayah sebagai hasil dari membaca sehingga dapat terwujud potensi masyarakat dengan usaha mandiri; memberikan fasilitas yang menarik berupa koleksi yang disesuaikan kebutuhan masyarakat baik remaja, orangtua maupun  bacaan  yang  disesuaikan  dengan tingkatan usia ataupun gender sehingga masyarakat dapat menikmati fasilitas secara terjangkaudan murah; memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan/potensimasyarakat sekitar; serta menjadi penyatu serta solusi wadah bagi penampungan serta penyaluran kegiatan sosial masyarakat.
Hingga kini, menurut Dimas, program INEKSOS diterapkan secara bertahap sejak tahun 2011. Sehingga TBM Al-Bidayah semakin dekat dengan masyarakat terutama dengan agenda unggulan dari informasi layanan TBM Al-Bidayah yaitu dengan kegiatan Pengajian remaja serta Taman Pendidikan Al-Quran Baiturrahman yang  semakin  hari  semakin  diminati  masyarakat dan menambah wawasan keagamaan.
Lebih jauh mengenai INEKOS, Dimas menjelaskan subtansi kolaborasi yang ingin diwujudkannya di TBM Al-Bidayah. Dari segi Informasi Layanan, TBM Albidayah telah memberikan banyak variatif layanan, mulai dari pengadaan koleksi yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat sampai kepada pembentukan kelompok minat baca yang dapat bertujuan sebagai sarana komunikasi dan tukar  pendapat yang pada akhirnya tercipta suatu kegiatan membaca yang produktif.
Dari segi Ekonomi, tampak terlihat budaya membaca tidak hanya dirasakan untuk penambahan wawasan akan tetapi dapat menciptakan peluang-peluang usaha yang mandiri dan kreatif yang akhirnya dapat memberikan kontribusi yang yang dengan banyaknya masyarakat tumbuh terampil dan berdaya guna serta meningkat dari strata perekonomian. Sebagai contoh usaha makan ringan dari buku berbagai macam pembuatan makanan, pertukangan dari buku pertukangan, sablon dari buku keterampilan sablon, dan lainnya.
Sementara dari segi Sosial : banyak kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : santunan anak yatim setiap bulan ramadhan, pojok sosial berupa penampungan dan pendistribusian pakaian pantas pakai, serta santunan warga kurang mampu. semua kegiatan sosial ini dilaksanakan oleh pengelola dengan dukungan para donatur warga, maupun pembaca yang mampu. 
Kini, dengan mengembangkan INEKOS, TBM Al-Bidayah memang telah menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengembangkan diri. Apalagi potensi lokal yang digali juga cukup komprehensif, termasuk warisan budaya lisan mendongeng dengan materi cerita asli Sapuran. Hingga kini, belasan judul dongeng lokal hasil anggota TBM telah dibukukan, baik hasil daur ulang cerita dari para leluhur maupun hasil kajian literasi. “Yang jelas, ini menjadi wujud kepedulian kita dalam membangun generasi yang sadar akan budaya dan warisan bangsa,” terang Dimas.
Ya, kiprah TBM Al Bidayah yang sudah banyak mendapat apresiasi dan prestasi ini—di antaranya menjadi pemenang Lomba Perpusdes/Kel Tingkat Nasional tahun 2011 dan menjadi TBM Kreatif Tingkat Nasional tahun 2014 pada ajang Hari Aksara Internasional—terus dinanti masyarakat Sapuran.
Boks
Dongen Karya Anggota TBM Al Bidayah
Bambu Rengkol: Petilasan Mpu Supo*
Hai teman-teman semua bagaimana kabarnya, baikkan......
Saya akan cerita “Bambu rengkol, Petilasan Mpu Supo”. Cerita ini diangkat dari buku legenda Wonosobo yang di tulis oleh Lis Retno Wibowo dan Dwi Putranto Bimo S.
Hai teman-teman tahu enggak cerita bambu rengkol, petilasan Mpu Supo? Mari kita dengarkan ceritanya.
Alkisah dizaman dahulu tinggallah seseorang yang piawai membuat keris. Ia bernama Raden Kosim yang lebih dikenal dengan seorang yang piawai dalam membuat Keris. Ia bernama Raden Kosim yang lebih dikenal dengan seorang yang piawai dalam membuat nama mpu Supo. Keris buatannya yang terkenal adalah keris Nogososro sabuk inten dan Dapur Sengkalit.
Dapur sengkalit merupakan keris sakti buatan Mpu Supo, kala itu ketika mpu Supo membuat keris Dapur Sengkalit dari keris tersebut memancarkan sinar cahaya kuning yang sangat indah dan memancar kelangit hingga dapat terlihat sampai daerah Blambangan. Bupati Blambangan melihat sinar tersebut.
“ Sinar apakah itu? sepertinya bukanlah sinar biasa, melainkan sinar yang berasal dari sebuah pusaka. “
 “Aku harus bisa memilikinya.”
 “Prajurit, panggilkan aku Pakis Cluring untuk menghadapku sekarang.“
“Baik paduka, hamba akan segera memanggilnya.”
Tidak lama prajurit kembali datang dengan Pakis Cluring seorang abdi Blambangan yang bertugas sebagai pengintai.
“ Ampun Baginda, hamba menghadap paduka Bupati.“
 “Sebenarnya ada yang membuat hatiku risau, kamu lihat itu di luar sana terlihat cahaya yang menurutku adalah cahaya yang berasal dari sebuah pusaka sakti.”
 “Aku perintahkan Engkau mencari sumber cahaya itu sampai ketemu dan ambil pusaka itu.”
“ Baik paduka, hamba akan melaksanakan perintah paduka.”
Pakis Cluring bergegas pergi mengikuti sorotan cahaya dengan melewati lembah dan perbukitan, memasuki hutan belantara hingga akhirnya tiba di daerah asal sorotan cahaya pusaka.
“Aku kira inilah daerah asal mula sorotan cahaya. Ah itu ada seorang yang sedang memegang keris, ternyata memang benar apa yang dimaksud Paduka ternyata cahaya sinar berasal dari pusaka.”
Pakis Cluring bergumam sambil menyelinap di balik semak-semak yang tidak jauh dari tempat Mpu Supo berada.
Saat Mpu Supo lengah, Pakis Cluring mengambil keris Dapur Sengkalit, dan akhirnya menyerahkannya kepada Bupati Blambangan.
Di lain tempat , tepatnya di daerah Bambu Rengkol, Sedayu Sapuran... Mpu Supo sangat sedih kehilangan pusaka keris Dapur Sengkalit.
“Kemana keris dapur sengkalit berada? Siapa yang mengambil kerisku?“
“Aku harus mencarinya dengan menyamar menjadi pengemis agar tidak diketahui orang.”
Dalam pencariannya. Kebetulan ia mendengar sayembara yang dilakukan oleh Bupati Blambangan. Untuk beradu siapa yang dapat membuat kembaran keris miliknya, maka akan dinikahkan dengan seorang putrinya dan diberi bumi separuh semangka.
 “Aku yakin itu adalah pusaka miliku, aku harus ikut dalam pertandingan sayembara itu, agar aku bisa mendapatkan kembali keris Dapur Sengkalit.”
Dengan kesaktiannya besi bahan keris dipotong dua. Lalu dari potongan besi menjadi keris kembar. Sementara keris Dapur Sengkalit yang asli dimasukkan di bawah kulit lengan.
Keris diserahkan pada Bupati Blambangan. Sesuai janjinya, Bupati Blambangan memberikan tanah dan menikahkannya dengan salah seorang putrinya.
Kini, petilasan Mpu Supa di Desa Sedayu kerap dikunjungi orang. Letaknya tak begitu jauh dengan Bambu Rengkol. Hanya sekitar 200 meter. Di petilasan tersebut terdapat semacam cungkup atau kijing dengan nisan batu kuna. Berada di bawah pohon beringin besar yang sangat tua.
* Dikembangkan oleh Sifaul Khoiriyah, TBM Al-Bidayah , Sapuran

WONOSOBOZONE - Putra Wonosobo bernama Dimas Ari Pamungkas berhasil meraih meraih juara dua dan mendapatkan mendali perak tingkat Nasional yang diserahkan langsung oleh Mentri Pendidikan Anies Baswedan untuk kategori Pendidikan Masyarakat dalam ajang apresiasi  PTK Paudni di Medan Sumatra Utara 3 - 9 juni dimana dalam perhelatan tersebut Dimas mengusung karya bertema "Gunung Sindoro (Gunakan Unggulan Koleksi Dongeng Rakyat Lokal)" dengan tujuan  mengangkat potensi lokal Wonosobo, khususnya di daerah sekitar tempat pendidikan masyarakat yang terpusat di Taman Baca Al Bidayah Sapuran, maka akan mewujudkan gemar membaca.

“Terimakasih atas semua dukungan dari Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Wonosobo yang mempercayakan tanggung jawab ini kepada kami. Trimakasih juga untuk dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah atas bimbingannya sehingga kami bisa mewakili di Medan. Terlebih  seluruh masyarakat Jawa Tengah terutama Wonosobo tercinta yang kami wakili maju ke Nasional,” tutur Dimas sesaat setelah tiba di Wonosobo.
 
Ari  yang sehari-hari menjabat ketua dan pengelola Taman Baca awalnya tidak menyangka saat mendapat pengumuman untuk mewakili Wonosobo ke tingkat provinsi, kemudian berlanjut ke tingkat nasional setelah menang di Jawa Tengah

Dalam penyusunan karya nyata yang diangkat menjadi PTK Gunung Sindoro, Dimas mengangkat Legenda Bambu Rengkol dan Kawah Sikidang dan berhasil memukau para juri baik di tingkat Provinsi maupun Nasional sehingga meraih medali perak. Berbagai karya tertulis berupa cerita legenda, documenter, dan fiksi juga pernah dibukukan oleh TBM Al Bidayah di bawah kepemimpinannya yang juga menggaet simpati dari berbagai pihak termasuk Perpustakaan Semarang yang belum lama ini berkunjung ke TBM nya di Sapuran.


original writer: win wonosobo ekspres
rewrite: apr