Jumat pagi, sekira pukul 9 pagi, awal Mei 2015 lalu, hawa sejuk terasa masih melingkupi kawasan Sapuran, Wonosobo, Jawa Tengah. Di tengah udara yang segar pagi itu, ada enam orang anak tengah asyik di depan komputer berselancar menikmati media sosial. Sementara beberapa anak seumuran siswa sekolah menengah pertama lainnya, menunggu giliran sambil membaca buku.
Itulah sekilas suasana di Taman Bacaan Masyarakat Al-Bidayah yang berada tak jauh dari alun-alun Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Menurut Dimas Ari Pamungkas, ketua TBM Al Bidayah, pengunjung ke TBM memang selalu ramai. “Lebih ramai seperti hari libur ini, mereka senang ke sini karena ada fasilitas bagi mereka untuk membaca dan memakai internet. Sementara kalau hari sekolah, biasanya anak-anak mulai dari SD hingga SMA datang untuk tugas sekolah,” terang Dimas.
Lokasi TBM Al-Bidayah sejatinya tidak terlalu mencolok. Harus masuk gang dan melewati beberapa rumah penduduk. Namun ketika sampai, pengunjung dapat melihat gapura sederhana yang menandakan lokasi TBM. Bangunan yang pertama kali kentara pun sebuah warung. Nah, apa hubungannya dengan TBM?
Usut punya usut, warung tersebut ternyata menjadi salah satu unit usaha yang dikembangkan di TBM Al Bidayah. Warung tak seperti minimarket memang, namun tampak menjual berbagai macam makanan ringan dan kebutuhan rumah tangga. Ada juga pernak pernik dan kerajinan tangan lainnya. “Warung ini memang unit usaha yang Alhamdulillah makin berkembang,” ujar Dimas.

Unit usaha berupa warung, lanjut Dimas, memang menjadi salah satu penopang jalannya TBM yang dikembangkannya. “Saya sadar bahwa untuk bisa berjalan, TBM harus memiliki dukungan dana. Nah, dari sinilah kami bisa melakukan subsidi silang untuk menjalankan TBM dan program lain yang ada di dalamnya,” katanya. Ia menambahkan, selain menjual kebutuhan rumah tangga dan makanan ringan, warung juga menjadi sarana memajang hasil kerajinan masyarakat binaan TBM yang mengikuti unit usaha.
Yang menarik, sebagaimana dituturkan Dimas, warung tersebut dikembangkan secara mandiri dengan modal hanya Rp50 ribu. Sekarang laba dari penjualan, sudah mencukupi pembelanjaan buku dan operasional TBM setiap bulan,” kata Dimas.
Mengubah Kebiasaan Masyarakat
Melihat perkembangan TBM Al-Bidayah yang terus menunjukkan peran pentingnya bagi masyarakat di Puntuksari, Sapuran, tentu tak terbayang bagaimana awalnya TBM ini didirikan. Menurut penuturan Dimas, latar belakang mendirikan TBM sendiri karena ia melihat banyak masyarakat di Sapuran yang kurang memanfaatkan waktu.
Dimas bersama beberapa temannya pun berinisiatif membangun pojok baca. Kenapa tempat baca, menurut Dimas, karena kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca. Kebiasaan membaca akan dapat lebih meningkat apabila didukung oleh kemampuan atau keterampilan berbahasa atau membaca yang tinggi di samping tersedianya dan terjangkaunya buku-buku.

“Sebaliknya juga bahwa setinggi apa pun kemampuan dan ketrampilan membaca seseorang tidak akan berfungsi atau banyak manfaatnya apabila tidak didukung oleh ketersediaan buku-buku bacaan secara memadai,” terang Dimas .
Ia juga menjelaskan, untuk dapat memperoleh informasi dan belajar dengan baik, kemampuan membaca perlu ditingkatkan sehingga tidak hanya dapat membaca aksara, kata, dan kalimat saja, tetapi terampil memahami makn ayang tersurat dan tersirat secara cepat dan tepat. Dengan semakin tingginya angka partisipasi dan retensi anak usia sekolah serta semakin tingginya tingkat pendidikan sebagian masyarakat akan memberikan peluang untuk memiliki keterampilan membaca yang baik.
“Semakin terampil masyarakat membaca, maka masyarakat akan semakin merasakan manfaat dan kenikmatan dari hasil membaca sehingga menjadi gandrung dan candu membaca. Perilaku yang seperti inilah yang menjadi salah satu ciri masyarakat gemar dan berbudaya membaca, yang menjadi angan-angan ketika saya mendirikan TBM ini,” ujar Dimas.
Tekad Dimas untuk mengembangan TBM juga dipacu keyakinan bahwa membaca adalah hal yang sangat fundamental dalam proses belajar dan pertumbuhan intelektual. Kualitas hidup seseorang dapat dilihat dari bagaimana seseorang dapat memaksimalkan potensinya. Salah satu upaya untuk memaksimalkan potensi diri adalah dengan membaca.
“Apalagi kondisi awal yang terjadi pada masyarakat di sekitar adalah masyarakat sibuk memanfaatkan waktu luang di sela-sela kegiatan kesehariannya. Saya anggap kegiatan masyarakat di waktu luang itu adalah dengan hal-hal yang kurang berguna,” kata Dimas. Ia mencontohkan, banyak tetangganya yang lebih memilihnya kegiatan melamun, merokok maupun mengobrol hal yang tidak perlu daripada membaca di waktu senggang. “Dengan kata lain, keberadaan buku yang belum menjadi kebutuhan keseharian. Anak-anak yang meluangkan waktunya dengan kegiatan bermain secara tidak terarah sehingga masih menganggap membaca adalah beban, serta para pemuda yang sedang atau telah menyelesaikan belajar dibangku sekolah tidak lagi mengasah kemampuan membacanya.”
Dari kondisi demikian, lanjut Dimas, ia merasa tergerak untuk melakukan kegiatan yang dapat memberikan manfaat dan kepuasan masyarakat dalam menjalani waktu-waktu senggang dengan hal-hal yang baik. Dimas ketika itu bertekad agar ada suatu kegiatan yang efektif efisien tepat guna agar kebiasaan masyarakat Sapuran terutama di kampung Puntuksari yang lama sedikit demi sedikit berubah menjadi kebiasaan yang baik.
“Semua itu saya rasa bisa dilakukan melalui penyelenggaaraan TBM yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan TBM sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat,” terangnya. Merujuk definisi Kemdikbud, Dimas menyatakan, TBM yang diselenggarakannya bertujuan untuk memberi kemudahan akses kepada warga masyarakat untuk memperoleh bahan bacaan. Di samping itu, TBM berperan dalam meningkatkan minat baca, menumbuhkan budaya baca dan cinta buku bagi warga belajar dan masyarakat. Secara khusus TBM dimaksudkan untuk mendukung gerakan pemberantasan buta aksara yang antara lain karenakurangnya sarana yang memungkinkan para aksarawan baru dapat memelihara dan meningkatkan kemampuan baca tulisnya.
Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat
Mendirikan TBM Al-Bidayah sebagai salah satu jawaban yang menawarkan perubahan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Sapuran, Dimas mengembangkan TBM yang telah dimulai sejak tahun 2007 dengan penuh kesabaran. Tentu saja tampilnya TBM Al-Bidayah pertama kali hingga berhasil adalah tidak semudah membalik telapak tangan melainkan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang ada.
“Namun semua tantangan yang dialami tidaklah membuat surut cita-cita saya dalam mengembangkan budaya minat baca. Setelah melakukan banyak kegiatan minat baca akhirnya, nuwun sewu, saya menemukan ide cemerlang guna meningkatkan budaya baca yaitu dengan mengenali potensi maupun keinginan masyarakat setempat yang berawal dari apa kebutuhan yang diperlukan masyarakat Sapuran yang dapat berdaya guna dari kegiatan membaca,” jelas Dimas.
Berangkat dari pemikiran itulah, Dimas mencoba meningkatkan budaya minat baca melalui layanan yang beragam dari pengadaan buku yang disesuaikan kebutuhan masyarakat setempat sampai ke pembentukan kelompok minat baca yang berguna untuk mengaplikasikan serta merangsang pembaca untuk berkreasi.
“Kreasi yang telah diciptakan dikembangkan dalam kegiatan perekonomian dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan maupun usaha-usaha baru dengan arahan pengembangan usaha yang cocok dengan potensi lokal,” terangnya.
Selain itu, lanjut Dimas, mengangkat potensi lokal yang berguna untuk menipiskan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang terlaksana dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Secara utuh, ide dan gagasan Dimas yang dikembangkan melalui TBM Al-Bidayah adalah pelaksanaan program INEKSOS yang memiliki kepanjangan dari Informasi Layanan, Ekonomi, dan Sosial yang menitik beratkan pada pemanfaatan dari kemampuan serta kebutuhan masyarakat setempat.
Pemilihan strategi program INEKSOS berbasis potensi local, menurut Dimas, adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Sapuran dengan alasan bahwa TBM bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca sehingga tercipta masyarakat yang cerdas; menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat; dan mendukung peningkatan kemampuan aksarawan barudalam rangka pemberantasan buta aksara sehingga mereka telah “melek huruf” tidak menjadi buta aksara kembali.
Alasan lain, katanya, antara lain untuk memfasilitasi anak-anak sekolah agar belajar serta trampilmembaca dan menulis; terciptanya peluang usaha dari kelompok minat baca yang ada pada TBM Al-Bidayah sebagai hasil dari membaca sehingga dapat terwujud potensi masyarakat dengan usaha mandiri; memberikan fasilitas yang menarik berupa koleksi yang disesuaikan kebutuhan masyarakat baik remaja, orangtua maupun bacaan yang disesuaikan dengan tingkatan usia ataupun gender sehingga masyarakat dapat menikmati fasilitas secara terjangkaudan murah; memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan/potensimasyarakat sekitar; serta menjadi penyatu serta solusi wadah bagi penampungan serta penyaluran kegiatan sosial masyarakat.
Hingga kini, menurut Dimas, program INEKSOS diterapkan secara bertahap sejak tahun 2011. Sehingga TBM Al-Bidayah semakin dekat dengan masyarakat terutama dengan agenda unggulan dari informasi layanan TBM Al-Bidayah yaitu dengan kegiatan Pengajian remaja serta Taman Pendidikan Al-Quran Baiturrahman yang semakin hari semakin diminati masyarakat dan menambah wawasan keagamaan.
Lebih jauh mengenai INEKOS, Dimas menjelaskan subtansi kolaborasi yang ingin diwujudkannya di TBM Al-Bidayah. Dari segi Informasi Layanan, TBM Albidayah telah memberikan banyak variatif layanan, mulai dari pengadaan koleksi yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat sampai kepada pembentukan kelompok minat baca yang dapat bertujuan sebagai sarana komunikasi dan tukar pendapat yang pada akhirnya tercipta suatu kegiatan membaca yang produktif.
Dari segi Ekonomi, tampak terlihat budaya membaca tidak hanya dirasakan untuk penambahan wawasan akan tetapi dapat menciptakan peluang-peluang usaha yang mandiri dan kreatif yang akhirnya dapat memberikan kontribusi yang yang dengan banyaknya masyarakat tumbuh terampil dan berdaya guna serta meningkat dari strata perekonomian. Sebagai contoh usaha makan ringan dari buku berbagai macam pembuatan makanan, pertukangan dari buku pertukangan, sablon dari buku keterampilan sablon, dan lainnya.
Sementara dari segi Sosial : banyak kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : santunan anak yatim setiap bulan ramadhan, pojok sosial berupa penampungan dan pendistribusian pakaian pantas pakai, serta santunan warga kurang mampu. semua kegiatan sosial ini dilaksanakan oleh pengelola dengan dukungan para donatur warga, maupun pembaca yang mampu.

Kini, dengan mengembangkan INEKOS, TBM Al-Bidayah memang telah menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengembangkan diri. Apalagi potensi lokal yang digali juga cukup komprehensif, termasuk warisan budaya lisan mendongeng dengan materi cerita asli Sapuran. Hingga kini, belasan judul dongeng lokal hasil anggota TBM telah dibukukan, baik hasil daur ulang cerita dari para leluhur maupun hasil kajian literasi. “Yang jelas, ini menjadi wujud kepedulian kita dalam membangun generasi yang sadar akan budaya dan warisan bangsa,” terang Dimas.
Ya, kiprah TBM Al Bidayah yang sudah banyak mendapat apresiasi dan prestasi ini—di antaranya menjadi pemenang Lomba Perpusdes/Kel Tingkat Nasional tahun 2011 dan menjadi TBM Kreatif Tingkat Nasional tahun 2014 pada ajang Hari Aksara Internasional—terus dinanti masyarakat Sapuran.
Boks
Dongen Karya Anggota TBM Al Bidayah
Bambu Rengkol: Petilasan Mpu Supo*
Hai teman-teman semua bagaimana kabarnya, baikkan......
Saya akan cerita “Bambu rengkol, Petilasan Mpu Supo”. Cerita ini diangkat dari buku legenda Wonosobo yang di tulis oleh Lis Retno Wibowo dan Dwi Putranto Bimo S.
Hai teman-teman tahu enggak cerita bambu rengkol, petilasan Mpu Supo? Mari kita dengarkan ceritanya.
Alkisah dizaman dahulu tinggallah seseorang yang piawai membuat keris. Ia bernama Raden Kosim yang lebih dikenal dengan seorang yang piawai dalam membuat Keris. Ia bernama Raden Kosim yang lebih dikenal dengan seorang yang piawai dalam membuat nama mpu Supo. Keris buatannya yang terkenal adalah keris Nogososro sabuk inten dan Dapur Sengkalit.
Dapur sengkalit merupakan keris sakti buatan Mpu Supo, kala itu ketika mpu Supo membuat keris Dapur Sengkalit dari keris tersebut memancarkan sinar cahaya kuning yang sangat indah dan memancar kelangit hingga dapat terlihat sampai daerah Blambangan. Bupati Blambangan melihat sinar tersebut.
“ Sinar apakah itu? sepertinya bukanlah sinar biasa, melainkan sinar yang berasal dari sebuah pusaka. “
“Aku harus bisa memilikinya.”
“Prajurit, panggilkan aku Pakis Cluring untuk menghadapku sekarang.“
“Baik paduka, hamba akan segera memanggilnya.”
Tidak lama prajurit kembali datang dengan Pakis Cluring seorang abdi Blambangan yang bertugas sebagai pengintai.
“ Ampun Baginda, hamba menghadap paduka Bupati.“
“Sebenarnya ada yang membuat hatiku risau, kamu lihat itu di luar sana terlihat cahaya yang menurutku adalah cahaya yang berasal dari sebuah pusaka sakti.”
“Aku perintahkan Engkau mencari sumber cahaya itu sampai ketemu dan ambil pusaka itu.”
“ Baik paduka, hamba akan melaksanakan perintah paduka.”
Pakis Cluring bergegas pergi mengikuti sorotan cahaya dengan melewati lembah dan perbukitan, memasuki hutan belantara hingga akhirnya tiba di daerah asal sorotan cahaya pusaka.
“Aku kira inilah daerah asal mula sorotan cahaya. Ah itu ada seorang yang sedang memegang keris, ternyata memang benar apa yang dimaksud Paduka ternyata cahaya sinar berasal dari pusaka.”
Pakis Cluring bergumam sambil menyelinap di balik semak-semak yang tidak jauh dari tempat Mpu Supo berada.
Saat Mpu Supo lengah, Pakis Cluring mengambil keris Dapur Sengkalit, dan akhirnya menyerahkannya kepada Bupati Blambangan.
Di lain tempat , tepatnya di daerah Bambu Rengkol, Sedayu Sapuran... Mpu Supo sangat sedih kehilangan pusaka keris Dapur Sengkalit.
“Kemana keris dapur sengkalit berada? Siapa yang mengambil kerisku?“
“Aku harus mencarinya dengan menyamar menjadi pengemis agar tidak diketahui orang.”
Dalam pencariannya. Kebetulan ia mendengar sayembara yang dilakukan oleh Bupati Blambangan. Untuk beradu siapa yang dapat membuat kembaran keris miliknya, maka akan dinikahkan dengan seorang putrinya dan diberi bumi separuh semangka.
“Aku yakin itu adalah pusaka miliku, aku harus ikut dalam pertandingan sayembara itu, agar aku bisa mendapatkan kembali keris Dapur Sengkalit.”
Dengan kesaktiannya besi bahan keris dipotong dua. Lalu dari potongan besi menjadi keris kembar. Sementara keris Dapur Sengkalit yang asli dimasukkan di bawah kulit lengan.
Keris diserahkan pada Bupati Blambangan. Sesuai janjinya, Bupati Blambangan memberikan tanah dan menikahkannya dengan salah seorang putrinya.
Kini, petilasan Mpu Supa di Desa Sedayu kerap dikunjungi orang. Letaknya tak begitu jauh dengan Bambu Rengkol. Hanya sekitar 200 meter. Di petilasan tersebut terdapat semacam cungkup atau kijing dengan nisan batu kuna. Berada di bawah pohon beringin besar yang sangat tua.
* Dikembangkan oleh Sifaul Khoiriyah, TBM Al-Bidayah , Sapuran