Senin, 25 Juli 2011

Kirab Budaya Hari Jadi ke 186 Wonosobo


Bapak Bupati H.A Kholiq Arif beserta Wakil Bupati Ibu Maya menyambut kedatangan para peserta kendaraan hias dalam rangka memberdayakan Wonosobo sebagai kota kembang yang di ikuti oleh beberapa instansi pemerintahan dilingkungan kota Wonosobo dan peserta umum. Pencanangan kota Wonosobo sebagai kota bunga diharapkan dapat menjadi ikon baru bagi dunia pariwisata Wonosobo setelah Dieng, Sungai Serayu yang telah menjadi ikon wisata rafting di Jawa tengah. Bunga menjadi simbol kesejukan dan keindahan seperti halnya kota Wonosobo yang sejuk dan indah. Disisi lain diharapkan dengan banyaknya budidaya bunga di Wonosobo dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat wonosobo, diharapkan juga ada multiplier efek dari produk turunan dari budidaya berbagai macam bunga.


Kirab budaya diikuti oleh berbagai kelompok kesenian seperti jaran kepang (kuda lumping) yang di iringi dengan musik tradisional gamelan. Banyaknya peserta di imbagi juga oleh banyaknya penonton dari berbagai kalangan: tua, muda, pelajar, anak-anak. Animo masyarakat dalam menyambut kirab budaya sangat antusias. Momen ini banyak diabadikan oleh banyak fotografer, wartawan media, turis asing dan masyarakat Wonosobo sendiri. Para seniman dari banyak desa di daerah Wonosobo dilibatkan untuk memeriahkan acara ini. Dengan adanya kirab budaya ini mampu mempertahankan budaya tradisional dari gerusan zaman yang terus melaju dengan kencang. Budaya tradisi leluhur ini harus kita lestarikan agar dapat diwariskan kepada generasi penerus bangsa, jangan sampai generasi penerus bangsa ini menyaksikan budaya hasil karya para leluhur di negeri tetengga atau di nagara asing. Sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap memberdayakan, dan mengabadikan budidaya luhur bangsa.


Hasil pertanian dari Wonosobo yang melimapah ruah di manifestasikan dalam bentuk gunungan yang menandakan sebagai rasa syukur pada Yang Maha Kuasa. Bentuk dari gunungan yang menjulang tinggi seperti gunung mempunyai filosofi hubungan vertikal atau transenden manusia dengan sang Pencipta dan semakin turun kebewah semakin besar menggambarkan hubungan antar manusia.
Para petani mengenakan pakaian tradisional menggambarkan kesederhanaan masyarakat petani Wonosobo sekaligus melestarikan pakaian tradisisonal Jawa. Siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikan hasil budaya leluhur?
Tek-tek adalah salah satu tradisi musik tradisional dari bambu yang mencoba di pertahankan dalam kondisi persaingan dengan alat musik modern. Musik etnik ini mempunyai suara yang khas yang tidak mungkin didapatkan dari suara alat musik tradisional. Penyajian musik tradisional yang bersifat kolosal menjadi tontonan tersendiri bagi masyarakat dan di tambah dengan koreografi yang unik membuat penonton mengikuti setiap hentakan nada yang dialunkan dari alat musik tradisional ini.
Surjan merupakan pakaian adat Jawa sejak Mataram kuno yang masih eksis sampai sekarang. Pelengkap dari pakaian ini adalah blangkon bukan sekedar sebagai pelengkap atau peneduh kepala, blangkon mempunyai filosofi tersendiri bagi masyarakat Jawa. Blangkon bukan saja menjadi simbol kesukuan kadang juga menjadi derajad seseorang dalam masyarakat. Selaian blangkon sebagai pelengkap surjan ada penutup bagian bawah berupa jarik (kain) bercorak batik yang biasanya melambangkan dari mana asal orang tersebut dan mempunyai status sosial apa dalam masyarakat. Kain yang sangat rapat menunjukkan etika kesopanan dalam berjalan dan berpakaian. Selaian itu ada keris yang diletakan dibelakang yang menunjukkan keberanian yang tidak perlu dipamerkan kepada orang lain.
Partisipasi merupakan wujud kepedulian masyarakat terhadap semua kondisi kebangsaan yang sudah berlangsung sejak dulu yang di wujudkan dalam gotong royong. Inilah budaya yang dimiliki bangsa Indonesia tetapi tidak dimiliki oleh bangsa lain. Inilah yang menjadi nilai tambah bagi bangsa ini selalu peduli walaupun tidak banyak melibatkan materi yang banyak.


Dengan personil yang seadanya Sapuran ikut sebagai partisipan dalam kirab budaya, dengan semangat melestarikan budaya dan memeriahkan hari jadi kota Wonosobo yang ke 186. Sapuran diwakili oleh staf kecamatan, staf kelurahan, batik Talunombo, pecinta kambing Etawa, grup kesenian Jaran kepang (kuda lumping) dan perwakilan dari SD Jolontoro
Grup kuda lumping perempuan dari kecamatan Kertek merupakan represantasi perempuan dalam kirab budaya di Wonosobo. Dedikasi perempuan terhadap seni perlu mendapat apresiasi dari masyarakat agar kelanggengan seni budaya bangsa terus berlanjut. Cerminan ini perlu diadaptasi oleh generasi muda agar tidak ada benang putus dalam pelestarian budaya yang agung dari leluhur.
Banyak jalan menuju Roma mungkin inilah pepatah yang menjadi pedoman bagi para penabuh gamelan sebagai musik pengiring, dari pada kesulitan membawa peralatan yang lumayan besar sepeda ontel pun disulap sebagai alat transport bagi peralatan-peralatan yang sulit untuk di bawa dalam carnival.
Demi memberi contoh bagi murid-muridya sang guru tidak menunjukkan kelelahannya pada murid-muridnya. Semangat terus dijaga walaupun matahari sedang berada diatas ubun-ubun. Ini adalah perwakilan dari Sapuran yang diwakili adalah oleh siswa-siswi dari sekolah dasar di desa Jolontoro di kecamatan Sapuran. Dengan terus tersenyum ingin menunjukkan pada para murid bahwa semangat harus terus dijaga.
Dengan penuh semangat anak-anak mengikuti kirab budaya lengkap dengan pakaia kesenian jaran kepang (kuda lumping)
Hasil upeti berupa gunungan yang berisi hasil pertanian masing-masing kecamatan yang diberikan kepada bupati Wonosobo sebagai representasi kepada para pendiri kabupaten Wonosobo.
Upacara songsong agung yang diikuti oleh para putera-puteri pilihan yang membawa berbagai pusaka peninggalan para pendiri kabupaten Wonosobo.



masyrakat berebut gunungan berupa hasil pertanian berupa kentang, antusiasme masyarakat dalam memeprebutkan gunungan wujud rasa terima kasih pada sang pencipta yang telah memberi hasil pertanian yang melimpah, tanah yang subur dan wonosobo yang aman dan tenteram.


Penyerahan rekor MURI kepada Agung Wiera yang memamerkan karya photo akbar terbanyak dan terbesar di Gedung Sasana Adipura Wonosobo, sejak kemarin (21-25/7). Pameran karya photografi yang akan berlangsung selama lima hari tersebut ditargetkan akan memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI). Photo yang terbetang lebar tersebut, berukuran 6x14 meter, berisi 36. 455 karya photo berukuran 4x6 cm. Menariknya ribuan photo tersebut dirangkai dan membentuk gambar pesona apik andalan Wisata Wonosobo yakni Telaga Warna dan Telaga Pengilon di Dataran Tinggi Dieng.
Agung Wiera, Koordinator Pameran mengatakan dihelatnya pameran photo terbesar dan terbanyak itu untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda dibanding tahun sebelumnya.
“Kita ingin juga memberikan wadah apresiasi seni photografi. Tahun ini dinilai istimewa, sebab sebanyak berisi 36. 455 karya berukuran 4x6 cm dibingkai menjadi photo sebesar 6x 14 meter menjadi gambar telaga warna dan telaga pengilon Dieng,” Karya photo tersebut dikumpulkan dari anggota HPPW yang telah melakukan pemotretan selama 7 tahun dari segala potensi dan peristiwa di Wonosobo. Diantaranya, potensi alam Wonosobo, budaya, sosial, tempat, pertunjukan musik hingga sejumlah peristiwa lain yang berada di Wonosobo.



Pameran fotografi yang diikuti oleh fotografer dari berbagai daerah dalam rangka memeriahkan pemecahan rekor MURI dalam foto akbar dan terbanyak di kabupaten Wonosobo oleh fotogarfer dari Wonosobo.



Wakil bupati Maya tampil dengan anggun didampingi oleh sang puteri menyaksikan karnaval kendaraan hias dari bunga. Keharmonisan keluarga mencoba ditampilkan oleh pemimpin di wonosobo kepada rakyat yang memilihnya.




Salah satu penggiat gerakan program sadar Keluarga Berencana (KB) kabupaten Wonosobo yang nampak kelelahan dengan sisa semangat yang ada. Program ini telah mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Perjuangan para penggerak keluarga beserta kader ini tidaklah sia-sia. Dengan program ini pengendalian tingkat laju pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat karena tidak terbebani dengan jumlah anak yang terlalu banyak. Dengan program ini pendidikan anak-anak juga lebih terencanakan. Laju tingkat pengangguranpun menjadi lebih sedikit karena antara jumlah lapangan kerja dan jumlah laju pertumbuhan angkatan kerja menjadi lebih terkontrol.

Gambar diatas menunjukkan bahwa semua elemen masyarakat ingin berpartisipasi dalam kirab budaya.
Bupati H.A Kholiq Arif mencoba berkomunikasi kepada anak-anak penyandang tunawicara dan tuna rungu dan mencoba memberikan semangat kepada meraka. Dan hal yang mengagumkan adalah mereka memberikan hasil karya mereka berupa jas batik kepada bupati. Sebagai wujud penghargaan dan terima kasihnya bupati langsung mengenakan hasil karya anak-anak bangsa ini. Dengan keterbatasan bukan berarti mereka memberikan hasil karya yang terbatas. Mereka memberikan bukti dengan kreasi mereka sendiri bahwa mereka mampu bersaing dengan yang lain. Inilah yang harus dipupuk dari segala elemen bangsa agar ketergantungan terhadap bantuan pemerintah semakin berkurang. 



Inilah wonosobo kita yang penuh toleransi para waria pun ikut berpartisipasi dalam kendaraan hias kabupaten Wonososbo. Bahkan penampilan mereka tampil lebih anggun dari pada peserta perempuan. Mereka berani modal untuk tampil dalam kendaraan hias kali ini. Inilah perbedaan yang tidak perlu menjadi perdebatan yang menimbulkan perpecahan.







Foto by Mamek Sumpeno & writen by Surono

0 comments:

Posting Komentar